Mengulik Lebih Dalam Mengenai Reksadana

Sumber gambar: Dok Reksana

 

Saat ini dunia investasi mulai menarik perhatian banyak kalangan. Tak hanya para pengusaha, anak-anak muda yang dikenal sebagai kaum milenial rupanya sudah tertarik dan mulai melakukan investasi. 

 

Terdapat banyak sekali jenis investasi. Selain itu, banyak sekali jenis saham dan obligasi yang ditawarkan. Hal tersebut rupanya membuat para investor pemula kebingungan. Lahirnya reksa dana sedikit memberi keringanan bagi para investor pemula untuk mulai melakukan investasi. 

 

Reksadana sendiri merupakan wadah yang berisi kumpulan dana yang dikelola oleh seorang profesional, dimana kumpulan dana tersebut merupakan investasi yang dimasukan oleh para investor untuk kemudian dikelola untuk membeli saham, obligasi, atau instrumen keuangan lainnya. 

 

Dikutip dari Xdana.com reksadana hadir di masyarakat Indonesia pada tahun 1976 dengan nama PT Danareksa yang didirikan oleh pemerintah. Pada waktu itu, perusahaan ini melakukan penerbitan reksadana dengan nama sertifikat “Danareksa”. Kemudian, pada tahun 1995, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang pasar modal yang menjangkau peraturan mengenai Reksadana dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal. Dengan adanya peraturan itu, reksadana lahir di Indonesia dengan penerbitan reksadana yang ditutupi oleh PT BDNI Reksadana. Saat ini, reksadana di Indonesia telah menjadi produk yang membawa dana masyarakat dengan jumlah ratusan triliun rupiah. Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), reksadana di Indonesia selalu mengalami perkembangan yang signifikan. Bahkan, jumlah produk reksadana di Indonesia sudah mencapai kurang lebih 1.936 produk dengan total dana yang dikelola (assetundermanagement/AUM) mencapai Rp520,91 triliun pada bulan Februari 2019. 

 

Perkembangan dan keeksistensian reksadana melahirkan puluhan bahkan ratusan produk reksadana dengan berbagai macam jenis. Di Indonesia sendiri, terdapat lebih dari 800 produk reksadana yang diperjual belikan secara umum. Belum lagi produk yang diperjual belikan memiliki jenis yang berbeda-beda. Dikutip dari Cimbniaga.co.id terdapat 4 jenis reksadana, yakni: 

  1. Reksadana pasar uang 

Jenis reksadana pasar uang adalah sebuah investasi yang dilakukan dalam bentuk instrumen investasi pasar uang. Biasanya jenis reksadana ini memiliki jangka waktu kurang dari satu tahun.

  1. Reksadana pendapatan tetap 

Meskipun memiliki risiko yang lebih tinggi dibanding reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap merupakan salah satu jenis reksadana yang cukup populer di mata investor. Pengertian dari jenis reksadana pendapatan tetap adalah sebuah investasi reksadana yang menginvestasikan aktivanya dalam bentuk efek utang atau obligasi dengan persentase minimal 80 persen. Jenis reksadana satu ini memiliki tujuan utama untuk menghasilkan tingkat return yang stabil.

  1. Reksadana campuran

Sesuai dengan namanya, pengertian dari jenis reksadana campuran adalah sebuah investasi reksadana dengan mengalokasikan dana investor ke dalam bentuk kombinasi instrumen investasi saham dan obligasi pada portofolio investasinya.

  1. Reksadana saham

Jenis reksadana satu ini memiliki pengertian sebagai sebuah aktivitas dalam menginvestasikan dana minimal 80 persen ke dalam bentuk saham. Di antara seluruh jenis reksadana yang ada, reksadana saham merupakan jenis reksadana dengan profil risiko yang paling tinggi.

 

Lalu, bagaimana cara kerja reksadana? 

Secara garis besar, seorang profesional yang bekerja pada produk reksadana akan menghimpun dana yang telah diberikan oleh nasabah. Dana tersebut kemudian diinvestasikan ke berbagai instrumen investasi sesuai keinginan nasabah. Setelah itu, berbagai informasi terkait investasi yang telah disalurkan akan dipantau dan disampaikan oleh manajer investasi dari produk reksadana tersebut.

 

Reksadana memang dapat mempermudah jalan para investor pemula untuk melakukan investasi. Namun, reksadana juga memiliki beberapa risiko yang harus diperhatikan. Dikutip dari Mandiri Investasi reksadana mengandung beberapa risiko di bawah ini: 

  1. Berkurangnya NAB

Risiko berkurangnya NAB adalah risiko yang timbul karena menurunnya harga aset di dalam suatu portofolio reksadana. 

  1. Wanprestasi/Cidera janji

Risiko Wanprestasi/Cidera Janji adalah risiko yang timbul karena para pihak yang terlibat dalam suatu transaksi reksadana tidak dapat memenuhi kewajiban yang disebutkan di dalam kontrak kepada pihak lain yang terkait, sehingga berpotensi menyebabkan hilangnya nilai investasi. Untuk mengatasi hal ini, kenali terlebih dahulu Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang mengelola produk reksadana Anda.

  1. Likuiditas

Risiko Likuiditas adalah risiko yang timbul akibat pembayaran hasil penjualan kembali unit penyertaan reksadana tidak dapat dibayarkan oleh Manajer Investasi. Jika aset atau efek dalam portofolio suatu reksadana tidak likuid (sulit dicairkan), maka sulit bagi Manajer Investasi untuk menjual kembali portofolio reksadana dalam waktu singkat, sehingga pembayaran hasil investasi kepada investor akan tertunda. Selain itu, jika terjadi force majeure, penjualan kembali unit penyertaan reksadana juga dapat dihentikan untuk sementara.

 

Jadi, apakah anda tertarik untuk mulai berinvestasi melalui reksadana?