Menjadi Realistis dengan Menyingkirkan Idealis

Sumber : kekitaan.com 

Hidup itu kejam dan keras ujar salah satu teman yang penulis jumpai baru-baru ini, dalam menjalani hidup ini alangkah baiknya jika kita sudah bersiap dikecewakan oleh kenyataan, karena tentunya bukan tidak mungkin  kita akan menuai kecewa dari apa yang rencanakan. manusia cuma bisa berencana, selebihnya biarkan tuhan yang bekerja.

Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita awali dari apa sih realistis dan idealis itu. Dikutip dari kumparan.com, idealis adalah suatu keyakinan atas hal yang dianggap benar olehnya dan bersangkutan dengan pengalaman, pendidikan, serta kultur budaya. Sedangkan untuk realistis adalah suatu paham yang menjelaskan tentang peristiwa nyata, tidak mengada-ngada, dan sesuai dengan apa yang terjadi sebenarnya.

Umumnya di usia remaja banyak dari kita yang sudah berandai-andai kelak ingin bekerja ini itu sesuai dengan passion masing-masing, dengan kata-kata pamungkasnya “Pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar” . Lantas apakah hal tersebut salah? Mengenai hal tersebut penulis sangatlah setuju, namun dibalik itu semua menurut penulis terdapat kesalahan jika kita menelan mentah-mentah kata tersebut, tentunya melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati akan memberikan dampak yang berbeda, mereka yang bisa menjalani hidup seperti halnya tersebut merupakan orang yang sudah sukses, dan kebanyakan dari kita tidak tahu latar belakang seperti apa yang bisa menjadikan mereka di posisi tersebut.

Tanpa kita sadari banyak orang yang memiliki pemikiran tersebut, namun kenyataanya apakah semua orang itu berhasil mewujudkan cita-citanya? banyak dari mereka yang akhirnya menyerah dan akhirnya harus menjadi realistis untuk menyambung hidup. Kita ambil contoh dalam sebuah perlombaan, semua peserta pasti berharap untuk menjadi yang terbaik, tapi hanya satu saja yang akan dinobatkan menjadi yang terbaik, sisanya, harus menerima realita kekalahan mereka.

Hal tersebut memanglah sebuah realita kehidupan, karena kita hidup berdampingan dengan orang lain yang juga memiliki keinginan dan harapan yang sama dan berbenturan dengan harapan dan keinginan kita. Pada akhirnya, dari semua harapan dan keinginan itu, akan ada yang menang dan kalah, maka oleh sebab itu sudah siapkah kita jika nantinya menghadapi kekalahan tersebut?.

Setelah menghadapi kenyataan tersebut, lantas apa yang akan kita lakukan. Pada akhirnya banyak yang dipaksa mengesampingkan idealis mereka, dan memilih untuk menjadi realistis dalam hidup mereka. Kedua tujuan dari idealis dan realistis ini apabila kita terapkan dapat menghasilkan visi yang dibutuhkan dalam meniti karir. Namun perlu kita ingat lagi bahwa sikap idealis dapat mengarah pada kegagalan dalam berkarir, di sisi yang lain sikap realistis akan mencegah dan menahan resiko terjadinya kegagalan dan mulai melakukan peningkatan secara bertahap.

Idealis juga membawa kita untuk mengubah dunia kerja kita menjadi lebih baik lagi, tetapi hal tersebut harus diiringi dengan sikap realisme dan akan mengurangi resiko kegagalan. Maka dari itu diperlukan keseimbangan dalam menjaga kedua sikap ini agar karier dapat berkembang ke arah yang lebih baik.

Dalam penerapanya kita yang memilih untuk berada di barisan sikap idealis seringkali tidak dapat mengekspresikan diri secara bebas merasa takut tersaingi, takut tidak disukai, takut tidak diterima, dan masih banyak lagi. Sehingga tidak jarang karena hal-hal tersebut kita menjadi realistis, yang mana kita malah tidak dapat menjadi diri sendiri. Maka banyak kita jumpai dari artis atau orang terkenal yang menjadi depresi karena harus tampil tidak apa adanya, mereka tidak dapat mengekspresikan dirinya dan berusaha menjadi sesuai dengan ekspektasi publik, hal ini dilakukan agar mereka dapat diterima dikalangan masyarakat.

Dalam hidup kita harus pintar melihat peluang dalam berbagai hal, berkaitan dengan hal ini tentunya peluang terhadap pilihan yang akan kita ambil, jika ditawarkan dua pilihan antara idealis tapi lapar atau realistis tapi kenyang, penulis selaku mahasiswa yang sedang bersiap untuk meniti karier akan mengambil opsi kedua, yakni lebih baik kita mengesampingkan idealis kita dan mengambil pilihan realistis.

Penulis beranggapan bahwa lebih baik mengambil pilihan realistis sembari mengumpulkan dan menyiapkan pengalaman serta keuangan untuk mewujudkan idealis penulis, karena tentunya dalam bekerja selain bertujuan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin kita juga akan berusaha mencari pengalaman sebanyak mungkin. Berbekal pengalaman tersebut maka akan meminimalisir kegagalan dalam karir yang sesuai dengan idealis kita.

Lalu bagaimana dengan orang yang memilih jalan mengedepankan idealisnya? Tentunya kondisi setiap orang berbeda-beda, ada orang diluar sana yang memiliki bekal dalam mewujudkan idealis mereka, perjalanan karir mereka diuntungkan oleh lingkungan mereka yang mendukung karier mereka, namun tak sedikit pula orang yang tetap berpegang teguh dengan idealis mereka walaupun tidak didukung oleh keadaan dan lingkungan sekitar, hidup memanglah merupakan misteri ilahi, kita tak tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Memilih untuk menjadi realistis bukan berarti kita menyerah terhadap idealis kita, bagi penulis menjadi realistis adalah pilihan sementara sembari menyusun strategi kedepan untuk mewujudkan sisi idealis kita. Namun dalam hidup kita akan senantiasa berproses dan tidak menutup kemungkinan di masa mendatang kita akan memiliki pendapat berbeda dalam memandang pekerjaan dibandingkan hari ini, hal ini tentu tak lepas dari perjalanan hidup kita.

Hal yang bisa penulis berikan kepada pembaca adalah, apapun pilihan hidup yang akan kita jalani, hendaknya kita jangan memandang sebuah permasalahan dari satu sisi, karena setiap pilihan yang kita pilih pastinya akan mendatangkan nilai hidup tersendiri bagi kita.