Bank Sampah: Tabungan Masyarakat Melalui Limbah Sampah

Sampah sering kali menjadi masalah diseluruh kota yang ada di kota-kota besar. Sampah merupakan salah satu penyebab terjadinya bencana banjir  dan juga penyebabnya timbulnya beberapa penyakit. Hal ini dapat terjadi juga tidak terlepas dari perilaku masyarakat yang tidak peka akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sampah. Dari masalah-masalah itulah akhirnya di bentuk Bank Sampah.

  Bank Sampah yang pertama kali didirikan yaitu di daerah Bantul, Surabaya, dan kemudian Malang. Direktur dari Bank Sampah Malang (BSM) ialah Rahmat pendirian Bank Sampah Malang (BSM) difasilitasi oleh dinas kebersihan dan pertamanan Kota Malang (DKP) dan dibantu oleh CSR dari PLN. Pendirian BSM sendiri berawal dari DKP yang merasa memiliki masalah dengan sampah yang ada di Malang, karena sebelum tahun 2011 Kota Malang belum menerapkan pengolahan sampah dengan metode 3R (Reduce, Reuse, Recyle). Selain itu permasalahan sampah juga disebabkan cara berfikir masyarakat yang masih menganggap bahwa sampah merupakan barang buangan yang sudah tidak dapat digunakan lagi dan kebiasaan masyarakat yang masih sering membuang sampah sembarangan. Dari situlah Rahmat diberi tugas oleh kepala Dinas untuk mencari inovasi bagaimana caranya agar sampah bisa memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Rahmat Bersama kader lingkungan melakukan survey selama 3 Bulan terkait dengan nilai ekonomi yang terdapat pada sampah, terinspirasi ketika melihat beberapa pemulung yang ada di TPA “kenapa pemulung ini mencari dan memilah-milah sampah?” akhirnya Rahmat sadar bahwa memang benar ternyata sampah juga memiliki nilai ekonomi. Dari sana mulai mencari tahu tentang Bank Sampah dari internet kemudian melakukan study banding ke Bank Sampah yang ada di Yogyakarta dan Surabaya kemudian menyampaikan hasilnya ke kepala Dinas.

  Awal pembentukan BSM sempat ditentang oleh masyarakat karena masyarakat belum mengerti ap aitu sebenarnya BSM. Banyak masyarakat berpikir bahwa BSM sama dengan TPA yang dapat menimbulkan bau yang tidak sedap, sehingga kantor BSM yang awalnya berada di daerah Sawojajar di demo oleh masyarakat sekitar dan akhirnya pindah di Jl.S. Supriyadi No.3 Malang sampai sekarang. Dari pengalaman tersebut BSM melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan menggandeng ibu-ibu PKK dan sekolah-sekolah di setiap kelurahan dan kecamatan yang ada di Malang. Dengan Motto Pinjam Uang Nyicil Sampah, Beli Sembako Bayar Sampah, Bayar Listrik Dengan Sampah. Akhirnya mendengar motto dari BSM seperti itu animo masyarakat yang ingin bergabung dan menjadi nasabah BSM meningkat pesat. Pada tanggal 15 November 2011 BSM di resmikan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup.

  Pelaksanaan Bank Sampah pada prinsipnya adalah untuk mengajak masyarakat memilah sampah. Pelaksanaan Bank Sampah dapat memberikan output nyata bagi masyarakat berupa kesempatan kerja dalam melaksanakan manajemen operasi Bank Sampah dan investasi dalam bentuk tabungan. Sebelum didirikannya BSM di Kota Malang belum ada Lembaga yang menangani pengelolaan sampah dari hulu hilir atau secara keseluruhan dan berkesinambungan. Hal ini disebabkan belum adanya kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang memiliki nilai tambah secara sosial, ekonomi, Kesehatan, dan lingkungan. Gading kasri kecamatan klojen Malang yang sudah menerapkan pengelolaan Bank Sampah pada tahun 2012 panitia lomba Clean and Green City tingkat RW se Kota Malang memberi apresiasi terhadap RW 02 kelurahan Gading Kasri. Apresiasi ini dikarenakan wilayah ini sangat serius menjadikan daerahnya benar-benar bersih dan hijau untuk menjadikan Kota Malang sebagai peraih Adipura.

  Sistem menabung sampah dihargai rupiah oleh BSM disemua kalangan masyarakat yang tergabung dalam unit BSM, dan terdapat sistem peminjaman uang dengan menyicil/mengangsur dengan memakai sampah yang ditabung. Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan sampah di Kota Malang, Sistem pengelolaan Bank Sampah Malang (BSM) adalah setiap anggota kelompok mempunyai aktivitas mengumpulkan sampah rumah tangga yang masih dapat di daur ulang atau dijual antara lain kertas karton, kertas duplek, kertas buku, kertas folio, kertas koran, sampah plastik (botol/gelas air mineral), bungkus mie instan dan lain-lain. Sampah yang dapat dijual dan dapat langsung dihargai perkilogramnya dukumpulkan atau di koordinir oleh ketua kelompok masing-masing. Setiap satu minggu sekali dengan hari sesuai jadwal yang telah ditetapkan ada petugas dari Bank Sampah Kota Malang, yang nantinya petugas dari Bank Sampah akan mendatangi di wilayah masing-masing untuk mengambil sampah yang terkumpul dan sudah dipilah-pilah oleh masyarakat setempat. Dengan mobil pick up yang telah disiapkan sekaligus menimbangnya. Tugas pengurus kelompok mencatat hasil timbangan dan nilai rupiah yang diperoleh masing-masing anggota dan total hasil kelompok dicatat atau masuk di buku tabungan Bank Sampah Malang dari kelompok yang bersangkutan.