Mengenal Budaya Konsumtif di Bulan Ramadan

Foto : Irawati Kusuma W

Tak sedikit umat Muslim yang merasa ketika bulan Ramadan datang, pengeluaran mereka akan bertambah besar. Hal ini berkaitan dengan perilaku konsumen yang mengarah pada kehidupan manusia. Karena salah satu gaya hidup konsumen yang menganggap bahwa materi sebagai sesuatu yang menghasilkan kepuasan tersendiri bagi mereka. Dapat dikatakan bahwa perilaku konsumtif merupakan perilaku seseorang yang suka membeli barang atau jasa secara berlebihan, jika dilihat dari sudut pandang ekonomis akan menimbulkan sifat pemborosan dan perilaku konsumtif akan lebih mengutamakan kesenangan atau kepuasan semata dan pembelian tidak lagi didasari oleh faktor kebutuhan mereka.

Seperti yang kita ketahui Bulan Ramadan merupakan bulan suci yang dipenuhi berkah dan dimaknai oleh sejuta kemuliaan. Di sisi lain ada satu hal yang sudah menjadi sebuah tradisi umat Islam di tanah air yang tidak pernah hilang dari waktu ke waktu yakni budaya konsumerisme. Seperti yang kita ketahui, selama bulan Ramadan banyak sekali pusat perbelanjaan atau mall yang penuh sesak dengan orang-orang yang akan belanja kebutuhan ramadhan dan belanja pakaian yang akan mereka gunakan saat Hari Raya lebaran. Orang yang jarang belanja pun akan ikut belanja saat Ramadan.

Menurut perencana keuangan Edy Kurniawan yang dikutip dari economy.okezone.com perilaku konsumtif seseorang saat Ramadan memang cenderung meningkat. Awalnya, bulan ini mungkin kita berencana untuk menabung, tapi justru malah boros. Karena banyaknya kebutuhan yang dipersiapkan. Edy menambahkan, saat bulan puasa pengeluaran malah semakin banyak. Karena, banyak pengeluaran yang memang di luar rencana dan keinginan berbelanja pun semakin besar. Tidak hanya tergoda dengan banyaknya penawaran yang datang saat Ramadan, faktor sosial juga ikut mempengaruhi seseorang menjadi lebih konsumtif.

Hal inilah yang membawa peranan besar sehingga seseorang berbelanja bukan lagi karena kebutuhan. “Pengaruh sosial ikut memiliki peranan yang sangat tinggi, misalkan saja pada bulan-bulan biasa pengeluaran untuk berbelanja hanya sekitar 30%, tapi saat bulan puasa meningkat menjadi 70%. Hal ini karena terdapat faktor tuntutan, seperti membeli makanan khusus untuk berbuka puasa dan lainnya,” kata Edy. Hal senada juga disampaikan oleh pakar pemasaran sekaligus penulis buku, Yuswohady, masyarakat Indonesia terbiasa ‎dengan kegembiraan dalam menyambut bulan puasa. Dengan demikian, terdorong untuk berbelanja berbagai jenis panganan untuk persiapan. Yuswohady pun memberikan gambaran bahwa pada saat bulan puasa kita mengeluarkan dana tambahan sebesar Rp1 juta sampai Rp 4 jutaan.

Perilaku konsumerisme lainnya yaitu terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Pada hari-hari terakhir Ramadan masyarakat akan disibukan dengan membeli berbagai perlengkapan dan keperluan lebaran. Mulai dari kue-kue kering, pakaian muslim, hingga parsel untuk dibagikan ke teman-teman kantor atau keluarga mereka. Memang tidak ada salahnya jika membeli barang di bulan Ramadan namun sebaiknya jangan berlebih-lebihan sehingga pengeluaran uang pada saat bulan Ramadan tidak meningkat secara drastis. Hal terbaik yang bisa dilakukan agar anggaran tak melonjak yakni membuat anggaran belanja, hal tersebut dinilai mampu mengurangi sifat konsumtif. Dengan membuat anggaran belanja kita akan mengetahui pengeluaran bulanan atau harian saat kita belanja. Dengan begitu pengeluaran anda akan terlihat jelas. Kemudian dengan mengetahui kebutuhan pokok apa saja yang diperlukan menjelang Ramadan atau membuat list belanja selama puasa.

Menurut Data NielsenIQ yang dikutip dari liputan6.com tahun lalu ada peningkatan pengeluaran masyarakat sebesar 14% pada periode Ramadan, dibanding pada 2020. Namun dengan adanya pandemi COVID-19, pengeluaran masyarakat pada bulan Ramadan 2020 jauh lebih rendah dibandingkan Ramadan tahun-tahun sebelumnya. NielsenIQ juga mencatat, ada kenaikan pembelian produk makanan/minuman sebesar 3,9% pada saat periode ramadan 2020 dibandingkan dengan rata-rata bulan biasa. Tapi, terjadi penurunan pada 2020 karena di tahun-tahun sebelumnya, peningkatan bisa mencapai 28% pada saat periode ramadan vs periode regular. Untuk kategori makanan dan minuman, kenaikan signifikan pada saat periode Ramadan 2020 terlihat pada kategori biskuit, sirup, susu kental manis, soft drink (minuman bersoda) dan keju. Minuman-minuman seperti air mineral, RTD tea, RTD coffee yang biasanya mengalami kenaikan pada saat periode ramadan, tidak terlihat kenaikan untuk tahun ini, kecuali untuk minuman isotonic.

Jadi, untuk mengurangi budaya konsumtif itu sendiri ada baiknya kita menahan diri untuk tidak membeli barang yang sejatinya tidak kita perlukan. Atau jika benar-benar ingin berbelanja, sesuaikan dahulu sesuai kebutuhan. Jika dirasa sesuatu barang yang akan kita beli tidak terlalu kita butuhkan maka lebih baik uang yang akan kita gunakan kita simpan atau tabung saja. Sebab salah satu esensi dari puasa yaitu menahan segala hawa nafsu dan perilaku buruk termasuk pemborosan yang hanya mencari kepuasan semata. Karena disaat kita berbelanja akan selalu mementingkan keinginan dan hal tersebut merupakan pendorong dari sifat konsumtif.